Text
Lotus Feet Girl
Kebahagiaan adalah sesuatu yang paling dicari oleh manusia. Berbagai cara dilakukan untuk menemukan satu kata bahagia. Di antaranya mereka mencari kebahagian dengan memperbanyak harta dengan cara apapun, tanpa pandang perbuatan itu baik atau buruk, tanpa tahu perbuatan itu akan merugikan diri sendiri dan orang lain atau tidak.
Begitulah dunia, selalu menyilaukan mata manusia dengan segala bentuk fatamorgana. Dalam sebuah novel Lotus Feet Girl karya Wiwid Prasetyo pun secara tidak langsung menceritakan kisah anak manusia yang salah dalam mencari arti dari kata bahagia. Mei Yan adalah seorang ibu yang sebenarnya sangat menyayangi anaknya, Wu Ying. Kehidupan mereka tidak bisa dibilang baik, karena memang serba kekurangan. Apalagi ketika suaminya meninggal, Mei Yan seakan tidak punya harapan lagi untuk melanjutkan hidup.
Suaminya hanya meninggalkan beberapa biri-biri, dan ketika dijual oleh anaknya hanya mendapatkan beberapa Fen (mata uang kerajaan Yunan kala itu) yang hanya cukup mengganjal perut mereka paling tidak hanya dalam seminggu. Ketika mereka sudah tidak tahu harus membeli makan dengan apa, Pasaraya tahunan dimulai.
Pasaraya yang semula diharapkan menjadi ajang hiburan dari penguasa bagi rakyatnya tak sepenuhnya benar. Karena yang bisa menikmati pasaraya hanya orang yang berharta saja, sedangankan Wu Ying dan ibunya hanya bisa melihat dan meneteskan air liur karena pengin namun tak bisa memiliki.
Kehidupan mereka semakin menderita, setelah lama berkeliling menonton pasaraya mereka berdua kelaparan. Mei Yan mematahkan janji pada anaknya agar tidak memiliki keinginan ketika berada di Pasaraya, namun faktanya mereka lapar. Akhirnya, Mei Yan mengajak Wu Ying untuk makan. Tidak dengan uang sendiri namun dengan mencari pekerjaan.
Mereka berjalan dari satu lapak ke lapak lain yang ada di pasaraya, mereka datang ke kedai pemotongan babi, mereka meminta sebuah pekerjaan dan meminta upah sekali makan. Bukannya dipersilakan, mereka malah mendapat penolakan dari tukang potong babi tersebut. Tak kunjung mereka mendapat sambutan yang baik, mereka selalu mendapatkan cemoohan dan sumpah serapah. Mereka kelaparan hingga sampai di rumah (halaman 19).
Gubernur Yunan berduka sebab istrinya meninggal, karenanya Sang Gubernur mencari istri pengganti. Hal ini dijadikan kesempatan oleh Mei Yan sebagai jalan memperbaiki takdir hidup. Dia ingin anaknya mencoba peruntungan ini. Jika Wu Ying terpilih, maka Wu Ying dan dia akan terangkat derajatnya dan akan hidup bahagia. Dia merias Wu Ying dan membujuknya untuk datang ke istana. Akhirnya, Mei Yan pun menawarkan Wu Ying kepada utusan Gubernur untuk membawa anaknya.
Wu Ying menjadi orang terpilih, Gubernur terpikat dengan kecantikannya. Wu Ying pun terpesona dengan ketampanan Gubernur dan megahnya kerajaan. Imajinai kebahagiaan telah terukir di benak Wu Ying, kelak setelah upacara pernikahan dia pun berencana membawa ibunya ke istana.
Namun, jauh api dari panggang, tak ada kebahagiaan dengan menjadi istri gubernur dan hidup di istana. Wu Ying harus taat dengan adat istana yaitu mengecilkan kakinya, dengan dipatahkan agar tidak berkembang dan selamanya menjadi kaki yang mungil (halamn 75). Sungguh hal ini sangat menyiksa dan menjadi penyesalan selama hidupnya.
Ketika membaca novel ini, sangat terasa kisah epik kerajaan Yunan meski ditulis penulis Indonesia. Wiwid berhasil menciptakan atmosfer kehidupan kuno di China. Novel yang terinspirasi dari adat kerajaan Yunan yang tidak manusiawai ini juga menceritakan perjalanan cinta Wu Ying dengan penjual boneka rumput.
| STP00171R1 | 800FSLOTW | PUBLISHING YEAR | Available - SERIES TITLE |
No other version available